MedanEkspress | Tapteng – Di bawah terik matahari Sabtu (17/1/2026), deru mesin mobil berlogo TNI membawa kabar baik bagi warga di pelosok Tapanuli Tengah. Bukan membawa logistik tempur, kendaraan-kendaraan besar itu datang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga bagi warga di Kecamatan Tukka dan Badiri yang tengah berjuang bangkit pascabencana: air bersih siap minum.
Bagi warga seperti di Kelurahan Hutanabolon dan Bonan Lumban di Kecamatan Tukka, serta Kelurahan Hutabalang di Kecamatan Badiri, air bersih sempat menjadi barang mewah. Lumpur dan sisa bencana seringkali membuat sumber air mereka tak lagi layak sentuh. Namun, kehadiran Mobil Reverse Osmosis (RO) bantuan dari Menkopolkam yang dikerahkan Satgas Gulbencal Kodam I/Bukit Barisan mengubah segalanya.
Satu per satu warga datang membawa jeriken, ember, hingga galon kosong. Wajah lelah mereka perlahan berganti dengan senyum lega saat melihat air jernih mengalir dari keran mobil canggih tersebut. Berkat teknologi RO, air yang diolah tak sekadar jernih, tapi bisa langsung diteguk untuk melepas dahaga tanpa harus dimasak terlebih dahulu.
Di lapangan, personel dari Kodim 0211/Tapanuli Tengah dan Yonif 123/Rajawali, tampak bahu-membahu membantu warga, terutama lansia dan ibu-ibu, mengisi wadah air mereka. Bagi para prajurit, ini bukan sekadar tugas kedinasan, melainkan misi kemanusiaan untuk memastikan tak ada warga yang jatuh sakit karena krisis air bersih.
Kapendam I/BB, Kolonel Inf Asrul Kurniawan Harahap, S.E., M.Tr.(Han), mengungkapkan bahwa kehadiran TNI di tengah situasi darurat adalah janji yang akan selalu ditepati. "Kami ingin memastikan bahwa dalam kondisi tersulit sekalipun, kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Pendistribusian air bersih ini adalah bentuk kehadiran negara dan kepedulian TNI untuk memulihkan kembali denyut kehidupan warga pasca-bencana," ujar Kolonel Asrul dengan penuh empati.
Hingga petang menjelang, mobil-mobil RO itu masih bertahan, terus menyuling air demi memastikan setiap dapur warga kembali mengepul dan setiap anak tak lagi kehausan. Di Tapanuli Tengah hari itu, seteguk air jernih bukan sekadar pemuas dahaga, melainkan simbol harapan bahwa hidup akan segera membaik.
Sumber: Pendam I/BB
Editor: Zoel AB
