MedanEkspress | Bawolato, Nias - Deru aliran Sungai Hou di Desa Hou, Kecamatan Bawolato, kini tak lagi menjadi sekadar pembatas wilayah yang sunyi. Sejak Sabtu (10/5/2026), kawasan ini berubah menjadi pusat aktivitas alat berat dan kolaborasi prajurit TNI. Kodam I/Bukit Barisan secara resmi memulai pembangunan Jembatan Perintis Garuda, sebuah proyek infrastruktur yang diproyeksikan menjadi urat nadi baru bagi ekonomi masyarakat Kabupaten Nias.
Selama bertahun-tahun, warga di pedalaman Bawolato harus berhadapan dengan tantangan alam yang berat untuk mendistribusikan hasil bumi. Namun, melalui program Karya Bakti Skala Besar ini, pemerintah melalui TNI berupaya meruntuhkan tembok isolasi tersebut. Jembatan sepanjang 35 meter yang tengah dibangun ini bukan hanya soal konstruksi fisik, melainkan jaminan kelancaran arus barang dan jasa.
Presiden RI Prabowo Subianto, sebagai inisiator program ini, menitikberatkan pada pemerataan pembangunan hingga ke titik-titik paling terpencil. Nias, dengan potensi perkebunan dan pertaniannya, menjadi prioritas agar mampu bersaing dengan wilayah lain melalui dukungan infrastruktur yang mumpuni.
Pengerjaan jembatan ini melibatkan kekuatan gabungan dari Yonif TP 903/BS, Koramil 03/Idg Kodim 0213/Nias, serta Yonzipur 1/DD. Meski baru memasuki hari pertama pelaksanaan, efisiensi kerja tim terlihat menonjol. Progres pekerjaan dilaporkan telah menyentuh angka 15,2 persen, dengan fokus awal pada perakitan struktur besi dan mobilisasi material ke titik lokasi.
"Ini adalah wujud nyata kehadiran TNI di tengah kesulitan rakyat. Kami memastikan setiap material terpasang dengan presisi meski harus menghadapi medan yang menantang," ujar Kapendam I/BB, Kolonel Inf Sandy, S.I.P.
Meski teknologi konstruksi digunakan, semangat gotong royong tetap kental terlihat. Personel di lapangan masih menggunakan peralatan manual seperti tembilang dan skop untuk memastikan detail fondasi dikerjakan dengan teliti.
Kehadiran Jembatan Perintis Garuda di Sungai Hou diharapkan memicu multiplier effect bagi perekonomian lokal. Dengan akses transportasi yang lebih mudah, biaya logistik petani diharapkan menurun, sementara harga komoditas di tingkat produsen dapat meningkat karena akses pasar yang kini terbuka lebar.
Bagi warga Desa Hou, jembatan ini adalah harapan yang menjadi nyata. Kelak, anak-anak sekolah tak lagi harus bertaruh nyawa menyeberangi derasnya sungai, dan denyut ekonomi warga tidak lagi terhenti saat musim hujan tiba.
Kodam I/BB berkomitmen untuk terus mengawal proyek ini hingga tuntas, memastikan bahwa setiap jengkal jembatan ini menjadi pijakan kuat bagi Nias untuk melangkah menuju kesejahteraan yang lebih merata.
Sumber: Pendam I/BB
Editor: Zoel AB
