MedanEkspress | Medan - Sebanyak 18 prajurit berkualifikasi khusus dari Kodam I/Bukit Barisan diterjunkan langsung untuk menjinakkan potensi krisis distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Sumatera Utara.
Langkah darurat ini diambil menyusul lonjakan permintaan energi yang memicu hambatan operasional (delivery bottleneck) pada rantai pasokan ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Intervensi taktis ini dilakukan atas permohonan resmi PT Elnusa Petrofin—mitra pengelola distribusi PT Pertamina (Persero)—melalui surat bertanggal 14 Juli 2026. Guna mencegah kelangkaan di tingkat konsumen, militer mengaktifkan Nota Kesepahaman tahun 2022 terkait pengamanan Objek Vital Nasional Strategis.
Masalah utama di lapangan bukan terletak pada menipisnya stok BBM di Fuel Terminal Medan, melainkan pada keterbatasan armada pengemudi yang andal. Lonjakan aktivitas ekonomi pasca-bencana regional di Sumatera Utara membuat ritme distribusi harian kewalahan. PT Elnusa Petrofin menghadapi kendala keterbatasan Awak Mobil Tangki (AMT) sipil yang mampu mengoperasikan kendaraan berat di bawah tekanan volume kerja yang tinggi.
Melihat celah risiko tersebut, Kodam I/Bukit Barisan langsung memobilisasi prajurit yang tidak hanya memiliki ketahanan fisik, tetapi juga memegang sertifikasi militer dalam mengemudikan truk berat.
Para prajurit ini mengemban misi vital selama kurun waktu terbatas, yakni sejak 14 hingga 17 Juli 2026. Fokus utama operasional mereka mencakup tiga aspek krusial. Menjadi pengemudi pengganti dan pendamping AMT sipil agar truk tangki dapat beroperasi nonstop tanpa risiko kelelahan fatal.
Kemudian, mengantisipasi hambatan premanisme jalanan, pungutan liar, maupun kemacetan logistik di jalur-jalur rawan Sumatra Utara, serta memastikan pasokan BBM utuh dan tepat waktu sampai ke SPBU tujuan tanpa adanya praktik penyelewengan di tengah jalan (kencing di jalan).
Kapendam I/Bukit Barisan Kolonel Inf Sandy, S.I.P., M.Han., menegaskan bahwa kehadiran tentara di kabin truk tangki bukanlah bentuk pengambilalihan kewenangan korporasi. Langkah ini murni merupakan sinergi sementara untuk membantu pemerintah daerah mengurai kemacetan logistik energi.
"Perbantuan ini bersifat sementara dan sangat terbatas. Begitu indikator distribusi di lapangan dinyatakan kembali normal, seluruh personel akan langsung ditarik kembali ke kesatuan," jelas Kolonel Inf Sandy pada Rabu (15/7/2026).
Melalui operasi kilat ini, arus suplai ke SPBU di wilayah Medan dan sekitarnya dilaporkan mulai merangkak stabil. Sinergi taktis ini berhasil meredam kepanikan pasar (panic buying) sekaligus menjaga roda perekonomian Sumatera Utara tetap berputar di jalur aman.
Sumber: Pendam I/BB
Editor: Zoel AB
