-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pertaruhan Nyawa di Deras Arus Kaleak: Potret Hitam Pendidikan Mentawai yang Memantik Reaksi TNI

| Oktober 21, 2026 WIB | 0 Views

MedanEkspress | Siberut Barat Daya - Di bawah langit Kepulauan Mentawai yang kerap murung, riak Sungai Kaleak bukan sekadar aliran air. Bagi anak-anak Dusun Kaleak, Desa Sagulubbeg, sungai itu adalah dinding tebal raksasa yang harus mereka taklukkan setiap hari demi sebuah ruang kelas di SMP Negeri 2 Siberut Barat Daya. 

Ketika banjir datang mengirimkan debit air berwarna cokelat pekat yang berputar deras, pilihan bagi para siswa ini menyusut drastis: bertaruh nyawa menembus arus, atau membiarkan masa depan mereka hanyut begitu saja.

Sebuah rekaman video amatir yang memperlihatkan tubuh-tubuh kecil para pelajar berjuang menembus kepungan banjir, belakangan memicu gelombang amarah dan empati di jagat maya. Kenyataan pahit yang selama bertahun-tahun terisolasi di pedalaman Sumatera Barat ini akhirnya menyeruak ke permukaan, memaksa mata publik menatap langsung pada luka lama yang belum sembuh di beranda depan pendidikan Indonesia.

Jeritan sunyi dari pedalaman Siberut itu akhirnya memicu respons cepat dari aparat keamanan. Pada Selasa, 20 Oktober 2026, keheningan Dusun Kaleak pecah oleh kedatangan rombongan militer. Atas instruksi langsung Komandan Kodim (Dandim) 0319/Mentawai, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 02/Siberut, Sertu Iswendra, menembus jalur menuju titik penyeberangan maut tersebut.

Langkah kaki Sertu Iswendra siang itu tidak sendirian. Ia didampingi oleh perangkat Desa Sagulubbeg yang berjalan dengan gundah, menunjukkan sejauh mana air sungai bisa naik dan menelan apa saja yang berani melintas. 

Peninjauan lapangan ini bukan sekadar seremoni militer, melainkan sebuah misi pengumpulan fakta krusial untuk mengukur sedalam apa bahaya yang mengintai anak-anak bangsa di sana.

"Kami harus melihat dan merasakan langsung kondisi psikologis serta geografis di sini. Data aktual di lapangan mengenai akses penyeberangan ini sangat kritis. Kita tidak bisa menunggu sampai jatuh korban jiwa baru bergerak," ujar Sertu Iswendra yang memahami jalannya peninjauan tersebut. 

Di tepi sungai, Sertu Iswendra tampak saksama mengidentifikasi berbagai kendala—mulai dari ketiadaan jembatan penyeberangan yang layak hingga karakteristik arus sungai yang bisa berubah menjadi monster mematikan dalam hitungan menit saat curah hujan tinggi.

Aksi tanggap darurat dari Kodim 0319/Mentawai ini memunculkan secercah harapan di tengah kepasrahan warga lokal. Langkah taktis ini menjadi bukti nyata komitmen TNI Angkatan Darat dalam mengawal keselamatan fisik masyarakat, sekaligus benteng terakhir bagi kelangsungan pendidikan di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Namun, kehadiran Babinsa di tepi Sungai Kaleak, baru merupakan babak awal dari perjuangan panjang. Hasil dari peninjauan ini segera dirumuskan menjadi lembaran rekomendasi darurat yang akan dibawa ke meja birokrasi pemerintah daerah dan instansi terkait. 

Kini, bola panas berada di tangan para pemangku kebijakan. Warga Sagulubbeg hanya bisa berharap agar koordinasi lintas sektoral ini melahirkan sebuah jembatan kokoh, sehingga di masa depan, anak-anak mereka tidak perlu lagi menantang maut hanya untuk membaca buku di sekolah.

Sumber: Kodim 0319/Mtw
Editor: Zoel AB 
×
Berita Terbaru Update