MedanEkspress | Sergai - Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB ketika langit di atas Kecamatan Teluk Mengkudu masih menyisakan sisa-sisa mendung hitam pasca-amukan angin kencang. Namun, di tengah kepanikan warga Dusun VI, Desa Pematang Setrak, yang baru saja menyaksikan atap rumah mereka terbang tercabut badai, derap langkah sepatu bot tentara sudah terdengar mendekat.
Hanya berselang kurang dari satu jam sejak bencana hidrometeorologi itu menghantam pada pukul 05.40 WIB, personel Babinsa Koramil 0204-09/Teluk Mengkudu sudah berdiri di garis depan, menembus sisa hujan demi memeluk duka warga terdampak.
Perintah harian dari Danramil 0204-09/TM Kapten Czi M Pardosi clear dan tegas: tidak ada waktu untuk menunda. Di bawah rintik hujan yang masih tersisa, Babinsa langsung menyisir lokasi paling parah. Respons kilat ini menjadi krusial mengingat mayoritas korban yang rumahnya hancur adalah para petani lansia yang rentan secara fisik dan psikologis.
Langkah pertama yang diambil TNI di lapangan bukan sekadar mendata angka kerugian, melainkan langsung melakukan aksi penyelamatan fisik. Personel Babinsa dengan sigap memindahkan puing-puing seng tajam yang berserakan di jalanan desa dan pekarangan, mengamankan barang-barang berharga milik warga yang basah kuyup, serta memastikan kondisi kesehatan para lansia pasca-trauma pagi buta tersebut.
Bagi Jumain (72) dan Ngatino (76), kehadiran seragam hijau loreng di halaman rumah mereka pagi itu bagaikan angin segar di tengah musibah. Di usia senja mereka, menyaksikan atap tempat berlindung satu-satunya koyak dalam hitungan menit adalah pukulan batin yang hebat. Kerugian materiil masing-masing sebesar Rp2 juta mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang, namun bagi petani lansia, itu adalah seluruh asa yang mereka miliki.
"Tindakan awal langsung kami prioritaskan untuk membantu korban yang paling rentan. Kami pastikan para orang tua kita ini aman terlebih dahulu dari potensi ambruknya sisa bangunan atau seng susulan," ujar Babinsa saat memimpin evakuasi mandiri di lapangan.
Bahu-membahu bersama warga yang masih shock, Babinsa Koramil 0204-09/TM dengan cekatan memasang pembatas darurat dan membantu menutup bagian atas rumah warga yang bolong menggunakan material seadanya, mengantisipasi jika langit Teluk Mengkudu kembali menumpahkan air.
Kesigapan Koramil 0204-09/TM tidak berhenti pada aksi fisik di lapangan. Secara paralel, komando terdepan langsung membangun jembatan komunikasi dengan Pemerintahan Desa Pematang Setrak. Langkah taktis ini diambil agar pemulihan pasca-bencana bisa berjalan tanpa birokrasi yang berbelit-belit.
Hingga laporan resmi diteruskan kepada Dandim 0204/DS dan Kasdim, koordinasi lintas sektoral telah berhasil memetakan kebutuhan mendesak para korban, mulai dari kebutuhan pangan darurat hingga material bangunan utama seperti seng dan balok kayu.
Meskipun badai pagi itu menyisakan kerugian materiil total Rp9 juta dari empat rumah yang rusak, kehadiran dan kesigapan Babinsa yang hadir bahkan sebelum matahari beranjak tinggi, berhasil memastikan satu hal: warga Pematang Setrak tidak dibiarkan menghadapi puing-puing duka itu sendirian.
Sumber: Kodim 0204/DS
Editor: Zoel AB
