MedanEkspress | Tapteng - Bayangkan sebuah desa yang mendadak terisolasi. Jalanan yang biasanya bising dengan deru motor, tiba-tiba bungkam, terkubur material tanah dan bebatuan besar. Sementara itu, aliran sungai yang seharusnya tenang, berubah mencekam karena tersumbat batang kayu raksasa yang siap memicu banjir susulan kapan saja.
Itulah potret Desa Sigiring Giring dan Kelurahan Hutanabolon di Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, sebelum bala bantuan tiba. Namun, sunyinya duka pascabencana itu pecah pada Selasa (24/2/2026) oleh deru mesin baja milik TNI.
Satgas Penanggulangan Bencana Alam (Gulbencal) Kodam I/Bukit Barisan tidak datang dengan tangan kosong. Di bawah komando Kodim 0211/TT, mereka mengerahkan "monster" besi untuk merebut kembali akses warga. Dua unit Excavator Komatsu Zeni TNI AD dikerahkan layaknya pisau bedah, meratakan badan jalan yang sempat hilang ditelan longsoran.
Tak jauh dari situ, sebuah Excavator Long Arm menjulurkan lengannya ke dasar sungai. Dengan presisi, alat berat ini mengangkat bongkahan batu dan kayu-kayu yang melintang, memastikan air kembali mengalir di jalurnya, bukan meluap ke pemukiman warga.
"Kami tidak hanya datang untuk mengevakuasi, tapi memastikan kehidupan warga kembali normal secepat mungkin," tegas Kapendam I/BB, Kolonel Inf Asrul Kurniawan Harahap.
Hasilnya? Nyata. Jalur yang tadinya mati total kini mulai bernapas kembali. Kendaraan roda dua hingga roda empat sudah bisa melintas, membawa harapan baru bagi para petani yang ingin menjual hasil bumi maupun anak sekolah yang rindu ruang kelas.
TNI membuktikan bahwa di balik seragam loreng, ada komitmen baja untuk memastikan masyarakat Tukka tidak sendirian menghadapi amukan alam. Kini, warga bisa sedikit bernapas lega, melihat jalan mereka kembali terbuka dan sungai mereka tak lagi mengancam.
Sumber: Pendam I/BB
Editor:Zoel AB
Editor:Zoel AB
