MedanEkspress | Nias - Selama bertahun-tahun, Sungai Molembe di Desa Sihareo III, Kecamatan Mau, Kabupaten Nias, adalah sebuah sekat yang mencemaskan. Ketika hujan deras turun dari langit Sumatra Utara, aliran airnya akan meluap, memutus urat nadi kehidupan warga. Anak-anak terpaksa meliburkan diri dari sekolah, hasil panen membusuk di seberang jalan, dan akses menuju puskesmas terdekat seketika menjelma menjadi perjalanan taruhan nyawa.
Namun, riwayat kecemasan itu resmi berakhir pada Senin (18/5/2026). Sebuah struktur baja kokoh kini berdiri tegak membelah sungai. Jembatan Garuda, sebuah jembatan tipe Armco sepanjang 6,5 meter, telah rampung 100 persen. Proyek yang digagas dalam program Karya Bakti TNI AD Skala Besar Tahun 2026 ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah operasi senyap dan siasat Kodam I/Bukit Barisan dalam meruntuhkan dinding isolasi bagi masyarakat pedalaman Nias.
Penyelesaian jembatan ini adalah cerita tentang keringat, otot, dan tekad yang membara. Medan pedalaman Nias yang berbukit dan cuaca yang tak menentu menjadi tantangan harian bagi para pekerja di lapangan. Untuk mengejar target, sebuah operasi gabungan berskala besar digelar.
Satgas Kodam I/BB menurunkan kekuatan penuh, memadukan keahlian taktis dari personel Kodim 0213/Nias, Yonif TP 903, hingga satuan konstruksi Yon Zipur 1/DD. "Kami tidak bekerja sendiri. Dibantu warga Desa Sihareo III, personel turun ke sungai untuk memanggul material, mengaduk semen, dan menyusun baja Armco. Pekerjaan dilakukan bahu-bahu guna menghidupkan tradisi gotong royong yang sempat memudar, sehingga kembali hidup dan berdenyut kencang di tepi Sungai Molembe," ungkap Kapendam I/BB, Kolonel Inf Sandy, S.I.P.
Kehadiran Jembatan Garuda bukan sebuah kebetulan, melainkan bagian dari pengejawantahan visi besar di tingkat pusat. Jembatan ini merupakan manifestasi dari program percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil, terdalam, dan tertinggal (3T) yang digagas langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Saat daerah lain meributkan digitalisasi, bagi warga Kecamatan Mau, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah sebuah jembatan yang aman untuk diseberangi. Dampak dari rampungnya Jembatan Garuda ini langsung dirasakan seketika. Bagi para petani setempat, jembatan ini adalah pembuka gerbang kesejahteraan. Distribusi hasil pertanian yang dulunya memakan waktu berjam-jam dan biaya mahal karena harus memutar atau menunggu air surut, kini bisa dipangkas menjadi hitungan menit.
Jembatan ini adalah penyambung masa depan. Anak-anak sekolah kini bisa berjalan kaki dengan seragam bersih tanpa takut tergelincir arus sungai. Ambulans dan petinggi medis kini dapat menjangkau desa tanpa hambatan logistik yang berarti.
Di balik struktur baja seberat berton-ton itu, ada satu ikatan abstrak yang ikut mengeras: kemanunggalan antara TNI dan rakyat. Kebersamaan di lumpur Sungai Molembe telah melahirkan kepercayaan baru bahwa mereka tidak lagi ditinggalkan di garis belakang pembangunan nasional. Jembatan Garuda kini berdiri, siap mengantar warga Nias melangkah menuju hari esok yang lebih aman, cepat, dan bermartabat.
Sumber: Pendam I/BB
Editor: Zoel AB
