MedanEkspress | Gunungsitoli – Bagi warga Desa Hambawa di Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kota Gunungsitoli, Nias, melintasi Sungai Sowu selama beberapa tahun terakhir bukan lagi sekadar perjalanan rutin, melainkan sebuah pertaruhan. Jembatan lama yang telah lapuk dimakan usia memaksa anak-anak sekolah dan petani melangkah dengan rasa cemas yang menghantui setiap hari. Namun, bentang ketakutan itu kini perlahan berganti menjadi optimisme.
Hingga Senin (29/6/2026), proyek pembangunan jembatan gantung baru di atas Sungai Sowu dilaporkan telah mencapai progres signifikan sebesar 66 persen. Di lapangan, personel Satgas Bakti TNI bersama warga setempat tengah mengebut pemasangan besi hanger dan pagar jembatan—dua elemen krusial yang menentukan kekuatan serta aspek keselamatan dari infrastruktur tersebut.
Secara teknis, jembatan ini dirancang dengan bentangan sepanjang 100 meter untuk menjembatani sungai selebar 60 meter. Namun, di luar angka-angka teknis konstruksi, proyek yang diprakarsai oleh Presiden Prabowo Subianto ini membawa misi kemanusiaan yang jauh lebih mendasar, yakni keselamatan jiwa dan pemulihan akses vital.
Ketika infrastruktur penyeberangan lama tidak lagi aman digunakan, sebuah wilayah praktis terisolasi secara perlahan. Kehadiran jembatan baru ini secara interpretatif bertindak sebagai penyambung kembali urat nadi kehidupan masyarakat Desa Hambawa yang sempat tersendat.
Struktur jembatan baru yang mengutamakan standar konstruksi modern akan menghapus kecemasan orang tua saat melepaskan anak-anak mereka pergi ke sekolah. Begitu pula untuk menjangkau fasilitas kesehatan, pendidikan, dan pusat pemerintahan yang berada di seberang sungai, kini tidak lagi terasa sejauh dan seberbahaya sebelumnya.
Keselamatan yang terjamin secara langsung membuka sumbat potensi ekonomi wilayah. Selama ini, rusaknya jembatan lama membuat distribusi hasil pertanian dan perkebunan warga menuju pusat perekonomian Kota Gunungsitoli menjadi terhambat tinggi, baik dari segi biaya maupun risiko logistik.
Dengan jembatan gantung yang kokoh, mobilitas komoditas lokal dipastikan akan jauh lebih lancar, menekan biaya angkut, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan rumah tangga di kawasan tersebut.
"Bakti TNI untuk Rakyat bukan sekadar membangun jembatan, tetapi juga membangun harapan, memperkuat konektivitas antarwilayah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat," ujar Kapendam I/BB, Kolonel Inf Sandy, S.I.P.
Melalui sinergi gotong royong antara prajurit TNI (termasuk personel Yon TP 905/TS, Yon TP 903/Baluseda, Koramil 01/Gunungsitoli, dan Yonzipur 1/DD) bersama masyarakat, pembangunan ini bukan sekadar mengejar target kalender proyek. Ini adalah kerja bersama untuk mengembalikan hak masyarakat atas ruang hidup yang aman dan terkoneksi secara layak.
Sumber: Pendam I/BB
Editor: Zoel AB
