MedanEkspress | Tapteng – Di balik genangan air yang merendam Kecamatan Tukka pada Jumat pagi (2/1/2026), terselip sebuah pemandangan tentang kepedulian yang nyata. Hujan deras yang mengguyur sejak dini hari tidak hanya membawa air dan lumpur ke pemukiman warga di Kelurahan Bonanlumban dan Hutanabolon, tetapi juga memanggil jiwa-jiwa pengabdi untuk hadir di tengah masyarakat.
Danrem 023/Kawal Samudera, Kolonel Inf Iwan Budiarso bersama Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, turun langsung menembus titik-titik kritis, memastikan bahwa negara hadir di saat rakyatnya sedang kesulitan.
Di Lorong III Bonanlumban, di mana air sempat menyentuh ketinggian satu meter, terlihat sinergi antara TNI, Polri, BPBD, dan pemuda Karang Taruna yang tanpa lelah membersihkan rumah warga serta rumah ibadah dari sisa-sisa bencana.
Langkah tegas diambil sebagai misi kemanusiaan demi keselamatan nyawa. Sebanyak 46 warga dari Desa Saur Manggita, Desa Kalangan II, dan Link V Siantar Gunung dievakuasi dengan penuh kehati-hatian menuju posko pengungsian. Wilayah mereka kini berstatus "Zona Merah"—sebuah tanda peringatan akan bahaya longsor dan banjir yang bisa datang sewaktu-waktu.
Kehadiran alat berat untuk memperbaiki tanggul Sungai Sigala-gala yang jebol menjadi secercah harapan bagi warga agar ancaman air tidak lagi menghantui tidur mereka.
Secara terpisah, Kapendam I/Bukit Barisan, Kolonel Inf Asrul Kurniawan Harahap, menegaskan bahwa ini bukan sekadar tugas teknis, melainkan misi kemanusiaan. "TNI bersama pemerintah daerah terus memastikan evakuasi berjalan aman. Sinergi ini adalah kunci untuk menjaga keselamatan warga kami," ujarnya dengan penuh empati.
Kini, meski air perlahan surut dan mentari mulai terlihat, semangat gotong royong di Tukka tetap menyala. Warga bersama para prajurit terus berbenah, membuktikan bahwa di tengah kepungan bencana, kebersamaan adalah kekuatan yang paling tangguh untuk pulih kembali.
Sumber: Pendam I/BB
Editor: Zoel AB
