MedanEkspress | Madina - Bagi para petani di Desa Simpang Duhu Dolok dan Desa Simpang Pining, setiap jengkal tanah di lahan perkebunan mereka adalah harapan. Namun, selama beberapa waktu, harapan itu seolah terpasung oleh derasnya aliran sungai di Kecamatan Ulu Pungkut. Banjir bandang yang menerjang beberapa waktu lalu tidak hanya merusak beton jembatan, tetapi juga memutus akses utama pengangkutan hasil bumi.
Namun pada Senin (27/4/2026), sejarah baru terukir. Di bawah komando Kodim 0212/Tapanuli Selatan, sebuah jembatan gantung sepanjang 20 meter kini berdiri tegak. Infrastruktur ini bukan sekadar konstruksi fisik, melainkan simbol kembalinya kedaulatan ekonomi warga di pelosok Mandailing Natal.
Proses pembangunan jembatan ini menjadi potret nyata kemanunggalan TNI dan rakyat. Personel Koramil 14/Kotanopan tidak bekerja sendirian. Di lokasi, terlihat pemandangan prajurit yang berseragam loreng bahu-membahu dengan para petani yang sehari-hari bergelut dengan lumpur. Mereka berbagi tugas: ada yang mengaduk semen untuk pondasi, merakit besi foot plat, hingga melakukan pengecatan akhir.
Jembatan dengan lebar 1,8 meter ini dirancang khusus untuk memastikan mobilitas warga kembali normal. Sebelumnya, rusaknya jembatan memaksa warga mencari jalur alternatif yang jauh lebih sulit dan berisiko, terutama saat membawa beban berat hasil panen perkebunan.
Dampak dari rampungnya jembatan ini dirasakan langsung pada sektor logistik desa. Kelancaran akses berarti efisiensi waktu dan biaya bagi petani. Kapendam I/Bukit Barisan, Kolonel Inf Sandy, S.I.P, menjelaskan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah pemulihan kesejahteraan masyarakat.
"Pembangunan ini adalah bentuk kepedulian TNI terhadap kebutuhan dasar warga. Kami memahami bahwa jembatan ini adalah urat nadi ekonomi. Dengan selesainya pembangunan 100 persen, kita berharap roda perekonomian warga, khususnya akses ke kebun, kembali lancar dan produktif," tegas Kolonel Sandy.
Kini, jembatan tersebut telah siap digunakan sepenuhnya. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa musibah banjir boleh saja merusak infrastruktur, namun tidak dengan semangat gotong royong.
Di Ulu Pungkut, jejak kemanunggalan itu kini terpahat nyata dalam wujud jembatan gantung yang kokoh—sebuah persembahan Kodim 0212/TS untuk memastikan tidak ada lagi petani yang terisolasi dari sumber penghidupannya.
Sumber: Pendam I/BB
Editor: Zoel AB
