-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gambut Labura Nyaris Membara, Respons Kilat Babinsa Gagalkan Ancaman Kabut Asap di Desa Sei Sentang

| Agustus 22, 2026 WIB | 0 Views

MedanEkspress | Labura - Jarum jam belum lagi bergeser jauh ketika sinyal darurat memicu alarm di sistem pemantauan satelit NASA-NOAA20, Kamis (20/8/2026). Di layar monitor, dua titik merah menyala di atas koordinat Dusun Wonorejo 33, Desa Sei Sentang, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Utara. 

Di atas kertas, itu hanyalah sebuah indikasi visual bernama hotspot. Namun, bagi aparat yang berjaga di wilayah rawan, dua titik merah itu adalah lonceng peringatan dini dari potensi bencana yang siap melahap apa saja.

Kualuh Hilir bukanlah wilayah sembarangan. Struktur tanahnya didominasi oleh lahan gambut—lapisan material organik sedalam beberapa meter yang bertindak layaknya spons raksasa. Di musim kemarau, spons ini berubah menjadi bahan bakar yang sangat kering. Sekali api menyelinap ke bawah permukaannya, ia akan menjalar dalam senyap, sulit dideteksi, dan hampir mustahil dipadamkan hanya dengan peralatan seadanya.

Menyadari ancaman laten yang bisa memicu bencana kabut asap lintas wilayah tersebut, Babinsa Sei Sentang Hitam, Koramil 0209-02/Tanjung Leidong, Kodim 0209/Labuhanbatu, Serda Goffis M. Manullang, tidak membuang waktu untuk sekadar menunggu laporan lanjutan.

Menerima data koordinat akurat, Serda Goffis M. Manullang langsung menggalang personel terkait. Tanpa menunda menit yang berharga, tim gabungan ini langsung bergerak melakukan pengecekan lapangan (ground check). Medan menuju Dusun Wonorejo 33 bukanlah jalur landai yang mudah dilalui; tim harus menembus vegetasi rapat dan semak belukar yang mengelilingi area persawahan serta perkebunan kelapa sawit milik warga.

"Di kawasan gambut, keterlambatan satu jam bisa berarti bencana satu minggu," ujar Serda Goffis M. Manullang. Kecepatan respons menjadi kunci utama agar situasi tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tidak terkendali.

Saat tiba di lokasi, kepulan asap putih tampak membubung di antara rimbunnya kelapa sawit. Serda Goffis M. Manullang mendapati dua titik api yang sedang berkobar. Beruntung, kalkulasi cepat di lapangan menunjukkan bahwa ini bukanlah kebakaran liar yang masif, melainkan aktivitas pembakaran terbatas oleh pemilik lahan. Sang petani tengah melakukan pembersihan lahan (land clearing) sebagai persiapan untuk media pembibitan baru.

Meski pembakaran tersebut terkendali dan terlokalisasi, Serda Goffis M. Manullang tidak mau mengambil risiko terkecil sekalipun. Angin kencang di area terbuka persawahan dapat dengan mudah menerbangkan bara api ke semak belukar kering di sekitarnya. Jika percikan itu menyentuh lapisan gambut terdalam, wilayah Labuhanbatu Utara terancam dikepung kabut asap tebal yang merusak kesehatan dan memutus urat nadi ekonomi.

Berpikir untuk mengutamakan keselamatan lingkungan, Serda Goffis M. Manullang bersama personel gabungan langsung mengambil tindakan tegas namun persuasif. Mereka bahu-bahu melakukan pemadaman total di kedua titik pembakaran tersebut. Mereka juga menyisir area sekitar, menyiram sisa-sisa arang yang masih membara, dan memastikan tidak ada lagi api yang bersembunyi di bawah permukaan tanah.

Aksi tanggap darurat yang berjalan taktis ini berhasil meredam potensi bahaya sebelum berkembang menjadi karhutla yang merugikan. Langkah ini sekaligus menjadi bukti nyata dari fungsi pengawasan ketat dan respons kilat yang dijalankan secara konsisten oleh jajaran komando kewilayahan di daerah rawan bencana. Melalui aksi sigap ini, kepulan asap di Desa Sei Sentang berhasil dijinakkan, memastikan langit Labuhanbatu Utara tetap bersih dari kepungan asap pekat.

Sumber: Pendam I/BB
Editor: Zoel AB 
×
Berita Terbaru Update