![]() |
| Fahri Tanjung dan Tegar Sianipar dalam sebuah dialog di kanal YouTube. (Foto: Ist) |
Teranyar, dalam sebuah kanal YouTube yang dikutip MedanEkspress pada Sabtu (4/10/2025), menampilkan Sekretaris Umum DEMA UIN-SU, Tegar Sianipar, bersama aktivis UIN-SU, Fahri Tanjung, yang kembali bersuara lantang. Mereka berdua menyoroti kebijakan kampus yang belum berpihak pada hak pendidikan mahasiswa.
Salah satu contohnya, Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang masih tinggi. Kebijakan ini tidak hanya memberatkan bagi mahasiswa, tetapi juga tidak sebanding dengan fasilitas dan layanan akademik yang disajikan.
Hasil survei DEMA UIN-SU menunjukkan bahwa tidak sedikit dari mahasiswa baru yang keberatan dengan kebijakan UKT yang diterapkan. Belum lagi sistem penerapan UKT yang belum transparan, dengan prosedur banding yang kurang membantu mahasiswa.
Tak ayal, kondisi ini disinyalir menjadi pemicu penurunan signifikan jumlah mahasiswa baru, yang di tahun 2025 ini hanya mencapai 600 orang, itu pun setelah dua kali proses pembukaan ujian mandiri.
Begitu pula dengan pengembangan fasilitas kampus yang sampai kini belum signifikan, baik itu dari segi akademik, maupun pengembangan minat dan bakat mahasiswa. Realita ini setidaknya terlihat di Sekretariat DEMA UIN-SU, maupun di UKK (Unit Kegiatan Khusus) dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang pemanfaatannya dikenakan biaya.
Baik Tegar maupun Fahri, sama-sama menilai bahwa beragam persoalan krusial di UIN-SU saat ini tak juga mendapat respon dari pimpinan kampus. Bahkan cenderung mendiamkan dan tutup mata.
"Keterbukaan dan komunikasi pimpinan kampus dalam menyahuti aspirasi mahasiswa, masih sangat minim. Ini akan menjadi preseden buruk bila terus dibiarkan. Karenanya, kami mendesak permasalahan ini diselesaikan, atau rektor mundur saja," tegas keduanya.
Sumber: Redaksi MEC
Editor: Zoel AB
